Tulisan terkirim dikaitan (tagged) ‘bali’

t

Jalan-jalan ke Jembatan Tukad Bangkung

In Diary on 17 Desember 2008 oleh etuctida Ditandai: , , , , ,

Jembatan Sungai (tukad) BangkungSenin, 15 Desember 2008 kemarin aku sekeluarga (aku, Prabha, Trita, Aji (si babe), ama Ibu (si mami) + Kak Kaler jalan” ke Jembatan Tukad Bangkung. Sebenernya acaranya sih hari Minggu kemarin lusa, tapi karena mobilnya masih disewain ya akhirnya mundur ke hari Senin. Tumben”nya si babe ngajakin jalan”. Suatu perubahan yang baik.

Sungai (tukad) BangkungJembatan Tukad Bangkung terletak Desa Plaga, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, diresmikan pada tanggal 28 April 2007 lalu oleh Bapak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Jembatan yang menghubungkan tiga kabupaten, masing-masing Badung, Bangli, dan Buleleng itu menjadi jembatan terpanjang di Bali dan diklaim sebagai tertinggi di Asia.

Untuk mencapai jembatan Tukad Bangkung dari Denpasar, kita melewati beberapa objek wisata lain seperti Sangeh (yang terkenal dengan monyet-monyetnya), dan Air Terjun Nung-nung.

Jembatan Tukad Bangkung mempunyai panjang 360 meter, lebar 9,6 meter, dengan pilar tertinggi mencapai 71,14 meter, dan pondasi pilar 41 meter di bawah tanah. Jembatan itu berteknologi balanced cantilever, dengan perkiraan usia pakai selama 100 tahun.

Dengan alasan supaya tidak mengurangi pemandangan di sekitarnya, jembatan itu tidak dibangun dengan atap di atasnya. Konstruksi jembatan itu diperkirakan tahan terhadap gempa hingga 7 skala Richter. Jembatan itu menggantikan jembatan lama yang letaknya berada 500 meter di arah selatan Jembatan Tukad Bangkung. Pembangunan jembatan itu sekaligus memangkas jarak di jembatan lama sepanjang 6 kilometer.

Ampe sana, aji nemuin tangga yang menuju ke bawah. Tangganya lumayan terjal, jadi mesti ati” kalo lewat. Pemandangan dari bawah sana keren juga. Tapi tetep hati”, soalnya tepi pijakan di sana berupa tebing. Banyak tanaman liar, tapi bagus banget. Ada anggrek liar, sampai mami tertarik untuk bawa pulang, trus ada bunga yang mirip edelweiss *masih gak yakin juga, itu edelweiss ato bukan*, ada jenis rumput yang unik, mirip rumpun bambu, dibawa pulang ama babe yang doyan nanem rumput. Sayangnya, disana banyak sampah plastik bekas snack ampe diapers bayi *ya ampun… tega nian membuang diapers sembarangan* dan juga bau pesing yang sangat menyengat. Padahal ada toilet deket sana *gak tau juga, toiletnya berfungsi apa engga*.

tumpuk tigaDisana pasti ada sesi foto”. Gara” ada Prabha yang sumpah-aje-gile-narsisnya. Ampe niat banget foto di tengah jembatan. Tapi Trita bilang Prabha itu **najis** karena suka foto”. Dia ngira narsis dan najis adalah sama. Cape dah..
Na[R]j(S)is

Pulangnya, pas lewat Sangeh, mobil kami berhenti karena Trita pengen liat monyet. Eh, ada monyet yang menghampiri mobil. Babe yang kaget ngeliat tu monyet, langsung tancep gas. Sayang, gak dapet ngambil foto tu monyet. Kemudiaann….